pub-7594223835742334 Sebuah blog diwaktu luang: Alat
Showing posts with label Alat. Show all posts
Showing posts with label Alat. Show all posts

Saturday, July 28, 2012

Kissenger, Inilah alat untuk mencium jarak jauh

Kissenger memiliki bibir plastik yang merespon tekanan.

Diaz Zahran Asy'ari Jika Anda terpisah jauh dengan pasangan, alat ini bisa menyampaikan rindu. Tapi, Anda harus mencium dulu alat yang mirip Mr. Potato Head di film animasi Toy Story. Perangkat pesan baru ini bernama Kissenger. Anda bisa mengirimkan ciuman jarak jauh melalui koneksi nirkabel kepada pasangan.

Alat ini ditampilkan pada konferensi Rancang Sistem Interaktif di Newcastle, Inggris pada Juni lalu. Kissenger dilengkapi bibir plastik yang sensitif merespon tekanan. Bibir yang serupa mulut manusia ini dipasang pada benda berbentuk telur yang dibungkus lapisan plastik lembut.

Bibir ini berisi sensor tekanan dan aktuator (bagian yang berfungsi sebagai penggerak). Ketika Anda mencium benda ini, perubahan bentuk yang terjadi ditransmisi langsung melalui internet ke mesin Kissenger yang menerima. Aktuator menghasilkan tiruan pola tekanan ciuman yang Anda lakukan. Secara cepat, Anda dapat mencium orang yang Anda kasihi dari jarak jauh.

"Banyak orang yang merespon sangat positif. Alat ini dinilai menjadi cara meningkatkan keintiman komunikasi dengan pasangan ketika terpisah jauh," ujar pengembang perangkat ini dari Lovotics, Hooman Samani.

Perusahaan asal Singapura ini sudah membuat prototipe Kissenger. Samani mengatakan tidak akan menjualnya hingga semua pertimbangan masalah etika dan teknis diselesaikan.

"Saya tidak tertarik dengan penggunaan perangkat ini secara seksual," imbuhnya seperti dilansir dari New Scientist.

Kissenger bukan perangkat pertama yang ingin menciptakan transmisi ciuman jarak jauh. Simulator ciuman ala Perancis sudah dibuat pada Mei 2011 oleh peneliti Kajimoto Lab di Universitas Komunikasi Elektronik, Tokyo, Jepang. Alat ini memiliki sedotan yang dapat berotasi mengikuti gerak lidah penciumnya. Sedotan ini menyampaikan gerak lidah dalam ciuman ala Perancis.

"Anda tidak perlu mengirimkan semua parameter dari sebuah ciuman. Tujuan utamanya untuk meningkatkan kedekatan hubungan jarak jauh. Kami sedang berusaha mengurangi kadar keanehannya," ujar Samani.(viva[dot]co.id)

Friday, January 6, 2012

mahasiswa UMY membuat alat detektor longsor

 Yogyakarta - Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Herjuna Sandra Darnastri mengembangkan alat deteksi dini tanah longsor tepat guna bersensor cahaya.

"Dengan alat itu masyarakat sekitar daerah rawan longsor dapat mengantisipasi datangnya longsor dengan tanda nyala lampu dan bunyi sirine pada saat tanah bergeser dalam jarak tertentu," kata Herjuna di Yogyakarta, Jumat.



Menurut dia, selama ini beberapa alat deteksi tanah longsor yang ada kebanyakan menggunakan potensiometer untuk mendeteksi terjadinya tanah longsor.

"Namun, alat yang saya kembangkan itu menggunakan sensor cahaya pada alat `light dependent resistor` (LDR) dan `light emitting diodes` (LED)," katanya.

Ia mengatakan, sensor cahaya dipilih karena potensiometer jika digunakan terus menerus dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan kerusakan.

"Selain menghasilkan nilai yang lebih stabil, alat deteksi dengan sensor cahaya akan lebih mudah dalam pembuatan mekanik dan kalibrasi alat," katanya.

Dalam proses pendeteksiannya, kata dia, beberapa patok secara paralel ditanamkan di bagian-bagian tanah yang rawan longsor. Patok lalu dihubungkan ke LDR dan LED dengan menggunakan kawat baja elastis.

Saat tanah bergeser, patok juga ikut bergerak menarik kawat baja sehingga LED menjauhi LDR. Selanjutnya akan diperoleh nilai "analog digital converter" (ADC) yang dikonversikan menjadi nilai pergeseran tanah dengan satuan sentimeter.

"Nilai pergeseran itu kemudian ditampilkan pada layar `liquid crystal display (LCD)," kata Herjuna.

Menurut dia, selain tampilan pergeseran tanah pada LCD, alat itu juga menghasilkan "output" berupa peringatan dini dengan lampu indikator dan bunyi sirine.

Ada tiga warna lampu indikator yang digunakan. Warna hujau menandakan terjadinya pergeseran tanah 2-3 cm dengan keadaan masih normal. Lampu kuning menandakan kondisi siaga satu dengan jarak pergeseran 3-4 cm, dan lampu merah berarti siaga dua mulai dari empat cm.

"Sirine akan berbunyi pada kondisi siaga tiga dengan jarak lima cm atau lebih. Pada alat simulasi itu saya menggunakan alat `buzzer` untuk menghasilkan suara," katanya.

Ia mengatakan, untuk aplikasinya dapat menggunakan alat yang menghasilkan suara yang lebih besar sehingga dapat didengar pada jarak yang lebih jauh.

Pergeseran tanah lima cm, menurut dia, dapat dinyatakan cukup membahayakan atau dapat menimbulkan tanah longsor. Pergeseran tanah lima cm akan membentuk rekahan tanah yang cukup besar.

Jika terjadi hujan, rekahan tanah itu dikhawatirkan akan dialiri air hujan di mana aliran air bisa membentuk bidang longsor yang mengakibatkan tanah longsor.

"Dengan alat itu masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan melihat lampu indikator dan suara yang ditimbulkan," katanya.

Ia mengatakan, alat itu diharapkan dapat digunakan di daerah-daerah rawan longsor di Indonesia sehingga dapat mengurangi korban jiwa.

"Alat itu memang dibuat untuk sekali pakai. Alat dirancang kokoh agar tidak terbawa longsor, tetapi jika terbawa longsor yang paling penting adalah bunyi sirine dari alat itu sudah memberi informasi secara cepat kepada masyarakat sekitar," katanya.

Sumber AntaraNews